March 28, 2014

Menunggu


Sudah ngantuk tapi masih bertahan. Entah aku menunggu pesan siapa? Padahal aku sedang tidak mengharapkan seorang pun.

Aaahh, atau mungkin aku sedang membayangkan ada seseorang yang perhatian padaku. Mengucapkan "selamat malam, sayang. Semoga mimpi indah". Iya, mungkin begitu.

Selamat malam sayang, semoga mimpi indah. :*

ditulis beberapa waktu lalu. Baru diposting malam ini

March 26, 2014

Tentang Pernikahan


Hari ini lagi-lagi blog walking, lalu ketemu sama posting-an yang membicarakan, eh bukan, tapi mempertanyakan pernikahan. Bahwa: apakah pernikahan itu perlu? Dulu, duluuu banget pas jaman kuliah, aku dan teman-temanku pun pernah melakukannya.

Sebagai mahasiswa yang sok kritis, kami sering mempertanyakan banyak hal, termasuk pernikahan. Jangan menganggap kami feminis, hanya karena kami mempertanyakan hal ini. Jangan anggap juga kami perempuan-perempuan yang mau membenarkan diri karena belum menikah. No, big no. Waktu itu kami masih unyu, "kapan nikah?" Belum jadi basa-basi yang super basi yang sering kami terima. Kami mempertanyakannya karena kami memang sering mempertanyakan banyak hal. Kami menjadi mahasiswa yang nggak menerima semua konsep begitu saja. Jangan anggap waktu itu kami diskusi serius ya? Kami hanya ngobrol santai, di DPR (Di bawah Pohon Rindang) lalu entah kenapa pembicaraan sampai ke sana.

Waktu itu diskusi dimulai dengan pertanyaan "Kenapa Allah menyunahkan umat islam menikah?". Pasti ada alasan penting kenapa menikah sampai disunahkan, ya kan? Selalu ada alasan penting di balik perintah Allah. Ya kan? Lalu apa pentingnya menikah? Kalau hanya untuk memiliki keturunan, supaya manusia tidak punah, maka nggak perlu ada pernikahan, karena orang bisa memiliki anak tanpa ikatan pernikahan. Selama mereka sepakat tidur bareng di masa produktif, sepakat untuk punya anak, maka mereka punya anak. Selain itu sekarang orang tidak perlu berhubungan intim untuk mendapatkan anak. Teknologi sekarang sudah memungkinkan seseorang memiliki keturunan dengan adanya bayi tabung, klonning, dsb. Jadi teori menikah supaya manusia tidak punah jelas bukan jawabannya.

Teori kedua adalah, pernikahan disunahkan supaya manusia bisa menjadi lebih dewasa dengan mengenal hak dan kwajiban masing-masing. Tapi teori ini pun gagal, pernikahan bukan satu-satunya cara untuk membuat seseorang dewasa. Bahkan kita pun sering melihat orang yang sudah menikah pun masih kekanak-kanakan.

Sepertinya waktu itu banyak sekali spekulasi-spekulasi yang kami lontarkan, tapi aku lupah apah ajah. Hahaha. Dan sepertinya waktu itu kami masih bertanya-tanya kenapa pernikahan itu disunahkan tanpa menemukan jawabannya. Entah apa kesimpulan diskusi itu, yang jelas waktu itu dari DPR kami pindah ke Kansas untuk makan. Bisa jadi masalah itu terlupakan oleh perut lapar.

Tapi kalau sekarang aku ditanya, mungkin aku akan menjawab seperti ini: Manusia punya hasrat seksual, mereka butuh penyaluran, dan kalau tidak ada pernikahan, tentu manusia sudah seperti binatang. Serobot sana serobot sini tanpa mempertanggung jawabkan akibatnya. Rebut laki-laki sana rebut perempuan sini, bacok sana bacok sini, demi mendapatkan yang mereka inginkan. Lalu ketika seorang bayi lahir, ibunya bertanya "ini anak dari lelaki yang mana?" Duh! Bisa jadi banyak bayi-bayi unyu ditinggal di pinggir jalan, ogah diurusi sama orang tuanya.

Dengan satu aturan pernikahan banyak sekali yang kemudian terselesaikan:
1. Masalah hasrat seksual.
2. Masalah penyaluran kasih sayang.
3. Masalah hak dan kewajiban orang tua pada anak.
4. Masalah generasi penerus
5. Masalah hak dan kewajiban anak pada orang tua.
6. Masalah pendewasaan (meskipun nggak semua, tapi pada umumnya orang memang bisa lebih dewasa setelah menikah).

Memang pernikahan bukan satu-satunya cara untuk mencapai semua itu (kecuali nomer satu emang kudu melalui pernikahan), banyak cara untuk menjadi dewasa, banyak cara untuk menyalurkan kasih sayang, banyak cara untuk mengenal hak dan kewajiban, banyak cara untuk mempertahankan generasi penerus manusia, dan karena banyak cara dan bukan satu-satunya cara itulah maka menikah "hanya" disunahkan bukan DIWAJIBKAN! Meskipun cuma disunahkan aku tetep pengen nikah.

Ya kan? Bener kan? Punya opini sendiri? Silakan komen di bawah dengan sopan, santun, kalem dan nggak alay. :)

Gambar aku ambil dari sini

March 25, 2014

Pesimis

Sore ini ketika temanku mengatakan sesuatu, tiba-tiba aku bilang "kok aku pesimis sih yang itu". Pfffttt! kapan sih aku nggak pesimis, rasanya aku selalu pesimis sepanjang hidupku. Nggak selalu juga sih, tapi ini sering terlihat saat kerja di kantor. Saat semua orang "pasti berhasil ini" atau "prospeknya bagus" dan aku akan dengan santainya "aku sih nggak yakin". Ya ampyun, bisa nggak sih aku menjadi pribadi yang lebih optimis, masak iya sih sepanjang hidup mau menghabiskan waktu dengan meragukan semua hal?

Semoga kamu tidak begitu ya?

Gambar aku ambil dari sini

Mengakui Kelebihan

Bukankah mengakui kelebihan orang lain itu sangat susah? Oke, mungkin kamu enggak, tapi aku iya. Apalagi jika kelebihan itu melekat pada orang yang seumur hidup ingin kita benci. Tapi sore ini, akhirnya aku menyerah kalah, apapun itu, dia memang lebih oke dariku, dia memang lebih keren dariku. Biasanya setiap kali dia menyebutkan konsep atau pemikirannya yang luar biasa, aku selalu mencemoohnya, "hallah teori", "hallah tahu apa kamu?", "hallah omong doang", "Hallah sok pinter," "hallah, sok-sokan", dsb. 

But today i admit that you, better than me. Siapalah aku yang merendahkannya. Siapalah aku yang masih saja meragukan tindakannya yang mulia. Siapalah aku yang masih menganggapnya tidak tahu apa-apa. Siapalah aku yang merasa lebih baik darinya. Memangnya apa yang telah aku lakukan, yang membuatku lebih mulia darinya, apa yang aku baca yang membuatku merasa lebih pintar darinya, apa yang telah aku perjuangkan yang membuatku lebih hebat dari dia?

Tapi sore ini aku mengakui kelebihannya, tindakan nyatanya dan semua yang telah dia lakukan. Iya, aku hanyalah manusia pendendam yang sombong, yang tidak mengakui kelebihan orang lain. Maafkan hambaMu ya Allah. 

Gambar aku ambil dari sini

March 17, 2014

Jangan Membaca Entrok

Kalau boleh aku menyarankan jangan membaca buku berjudul Entrok karya Okky Madasari. Why oh why? Karena akan membuatmu kepikiran dalam beberapa waktu lamanya. Aku membaca buku ini di hari Ahad lalu, dan aku masih kepikiran sampai sekarang. Fiuh! Menurutku ini buku berat. Dan sepanjang hidupku, aku hanya sesekali membaca novel berat. Genre kesukaanku kan yang chicklit atau teenlit yang selalu berakhir bahagia untuk semuanya. Membaca buku ini membuatku kepikiran dan kapok sesaat tapi pengen membaca karya Mbak Okky yang lain. Hahahaa... payah memang.

Harus aku kahui bahwa Mbak Okky Madasari ini jenius. Dia menuliskan Entrok dengan sempurna. Aku sangat menikmati saat membacanya. Meskipun ini bukan genre yang aku suka, namun susah buatku untuk berhenti membaca. Setiap lembaran yang dia suguhkan selalu membuatku ketagihan. Dan rasanya tidak percaya kalau Entrok ini buku pertama Mbak Okky Madasari. 

Novel ini bersetting pada tahun 1950an sampai awal reformasi tahun 1999. Novel Entrok bercerita tentang Marni seorang anak pengupas singkong yang ingin memiliki entrok atau yang sekarang biasa kita kenal dengan BH. Tahun 1950an perempuan tidak biasa dibayar dengan uang, mereka dibayar dengan bahan makanan, sehingga membeli entrok buat Marni tentu hal yang berat. Apalagi marni hanya tinggal bersama ibunya. Keinginan membeli entrok ini membuat marni membantu ibunya mengupas singkong di pasar, dari sana dia kemudian bekerja menjadi tukang burung angkut, yang pada saat itu tidak umum bagi perempuan. Dari uang buruh angkut inilah kemudian marni mengumpulkan serupiah demi serupiah untuk membeli entrok.

Setelah keinginan membeli entrok terpenuhi, Marni kembali bermimpi menjadi orang yang memiliki segalanya. Dari sisa uang membeli entrok, dia berjualan sayuran. Marni menjadi pedagang keliling. Jualannya semakin lama semakin bertambah. Setelah menikah usahanya semakin berkembang, karena jangkauan kelilingnya juga semakin luas. Dari berjualan sayuran, ke peralatan dapur dan akhirnya berdagang uang. Akhirnya Marni dewasa benar-benar menjadi orang terkaya di Ngrenget, desa tempat dia tinggal. Namun hidup tidak berjalan mudah begitu saja. Sejak kecil hidup miskin dan setelah dewasa menjadi orang kaya membuat dia dituduh memiliki pesugihan. Apalagi Marni percaya pada leluhur, yang membuat sesajen dan lain sebagainya. Setelah Marni kaya, dia pun harus membayar "uang keamanan" ke pada orang-orang berseragam. Semua jadi rumit bagi Marni dan keluarganya.

Kalau harus kuceritakan semuanya rasanya tidak mungkin, dan akan ada banyak hal seru yang harus aku tulis di sini. Bisa-bisa postingan ini tidak akan pernah berakhir. Hahaha... Tapi menurutku novel ini keren banget. AKu kagum dengan Mbak Okky yang bisa menuliskan novel ini dengan begitu alami dan runut. Seolah-olah Mbak Okky pernha mengalami hal ini. Segala yang ditulisnya menjadi kritik sosial dan politik. Apa yang digambarkan Mbak Okky dalam Entrok adalah hal yang memang terjadi pada masa orde baru. Membaca buku ini membuatku bersyukur aku hanya menjumpai akhir dari orde baru. Nah segitu saja ya, review dari saya. Silakan mencari novel Entrok ini, atau kalian bisa meminjamnya dari temanmu yang punya, seperti aku. Hahaha..

Judul: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 288 halaman.

Ditulis guna memenuhi tugas pena merah.

Self Publishing, hanya memanfaatkan penulis pemula?



Saya masih ingat sekitar 10 tahun yang lalu ketika teman saya memamerkan bukunya yang tidak dijual di toko buku. Saya heran, kok bisa ada sebuah buku tidak dijual di toko buku? Waktu itu saya masih menganggap bahwa buku haruslah dijual di toko buku. Ya, saya tidak pernah membayangkan bahwa selain di penerbit konvensional, naskah juga bisa diterbitkan sendiri, atau yang sekarang biasa dikenal dengan sebutan self publishing

Kita memang terbiasa dengan musik indie, film indie, namun kita masih menganggap aneh, bahkan tidak pernah terlintas di benak kita bahwa menerbitkan buku pun bisa dilakukan dengan cara indie. Memang 5-10 tahun yang lalu, self publishing atau penerbitan indie belum familiar, bahkan masih merupakan sesuatu yang aneh. Sampai sekarang pun masih banyak orang yang belum tahu apa itu self publishing

Self publishing adalah menerbitkan buku secara mandiri. Mandiri, karena apa-apa dilakukan sendiri, mulai dari edit naskah, layout nakah, membuat design cover, mencetak buku, lalu menjualnya. Jika ada biaya yang harus dikeluarkan, penulis pun harus menanggungnya. Sekitar 10 atau 5 tahun yang lalu, orang yang ingin ber-self publishing harus repot, karena harus melakukan semua itu sendiri. Namun beberapa tahun ini perusahaan yang memberikan layanan self publishing banyak bermunculan. 

Fenomena munculnya self publishing ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara-negara lain juga muncul fenomena self publishing. Di Indonesia sendiri, layanan self publishing ini ada dua macam, yakni self publishing yang berbayar dan self publishing yang gratis. Self publishing yang memberikan layanan gratis, penulis harus mengurus editing, layout dan juga design cover. Pihak penerbit nanti yang akan bertanggung jawab sebagai pencetaknya. Sedangkan self publishing yang berbayar, kebutuhan penulis seperti editing, layout, design cover dan juga ISBN akan diurus oleh penerbit. Penulis cukup membayar biaya penerbitan. Biaya yang dikeluarkan oleh penulis ini untuk membiayai jasa yang telah disebutkan di atas.
Munculnya self publishing di Indonesia tak serta merta membuat semua orang berpikiran positif tentang self publishing. Banyak orang yang mencibir tentang kualitas tulisan buku terbitan self publishing. Tidak adanya peran editor yang menyeleksi naskah di self publishing membuat banyak orang meragukan isinya. Selama memiliki kemauan, semua orang bisa menerbitkan buku tanpa terkecuali. Bahkan beberapa penerbit konvensional merendahkan perusahaan yang memberikan layanan self publishing. Memanfaatkan semangat para penulis pemula untuk keuntungan pribadi, menurut mereka. Padahal tanpa adanya perusahaan yang memberikan layanan self publishing, buku indie selalu ada di sekitar kita. Akan selalu ada penulis-penulis yang menempuh jalur ini untuk menyebarkan ide mereka. Munculnya perusahaan self publishing justru memberikan pemahaman baru bagi masyarakat, bahwa menerbitkan buku tidak hanya melalui jalur konvensional. Ada jalur lain yang bisa mereka tempuh.  

Jika dilihat dari segi biaya dan menyebarannya, menerbitkan buku secara indie tidak jauh berbeda dengan mengorbitkan musik secara indie, atau membuat film indie. Tapi entah kenapa nasib ketiganya berbeda. Dari segi biaya baik buku, film atau musik indie dibiayai sendiri oleh si pencipta. Dari segi penyebarannya, musik, buku atau film indie biasanya dikonsumsi oleh komunitas sendiri. Para pelaku indie inilah yang harus bergerak dan aktif untuk mempromosikan karya mereka. 

Namun dilihat dari segi nasib, ketiga karya seni indie ini berbeda. Musik dan film indie jauh lebih dikenal masyarakat dibandingkan buku indie. Mungkin hal ini disebabkan oleh masyarakat kita yang memiliki minat baca yang masih rendah. Masyarakat kita lebih menyukai film dan musik di bandingkan karya tulis. Bahkan orang sudah bisa menerima dan mengkonsumsi film atau music indie. Dilihat dari image, musik indie dan film indie terlihat lebih baik dibandingkan dengan buku indie. Musik dan film indie seringnya dianggap sebagai musik atau film yang anti mainstream. Sedangkan buku indie? seringnya dianggap sebagai buku yang belum bisa tembus penerbit konvensional, buku yang tertolak dengan kulitas yang masih pas-pasan.

Tapi benarkah buku indie atau buku self publishing ini selalu buruk? Belum tentu. Sama seperti musik dan film indie, banyak di antara buku-buku ini yang sebenarnya berkualitas. Banyak di antara buku-buku indie ini yang akhirnya dilirik dan diterbitkan di penerbit konvensional. Beberapa buku indie juga mendapatkan penghargaan karena kualitasnya. 

Saya pribadi lebih melihat self publishing sebagai era kebebasan. Kebebasan untuk menuangkan ide dalam tulisan dan mempublikasikannya. Semua orang boleh dan bisa menuangkan ide lalu menyebarkan tulisannya. Kita, penulis sendiri yang boleh menentukan apakah buku yang akan kita tulis layak dikonsumsi oleh orang banyak. Dan penulis sendiri yang nantinya akan mempertanggungjawabkan isi ke pada masyarakat luas. Seperti jalur indie lainnya, menerbitkan buku secara indie sebenarnya memberi penulis kebebasan untuk berkarya tanpa ada batasan-batasan dari pihak lain. Jadi masihkah Self Publishing, memanfaatkan penulis pemula? Semua penilaian saya kembalikan pada Anda.
 
Gambar aku ambil dari sini
Ditulis guna memenuhi tugas pena merah, sebelum diterbitkan di E-mag Nouvalitera :D

March 16, 2014

Mereka Tidak Mengalami yang Kualami


Waktu aku serba kekurangan, aku menjadi orang yang serba pelit. Bahkan kepelitan itu terbawa-bawa sampai sekarang. Kepelitan itu sebenarnya karena keterbatan ekonomi yang tidak memungkinkanku foya-foya, karena setiap rupiah yang kukeluarkan harus kupikirkan.

Waktu kuliah, aku hanya diberi uang saku 40rb per minggu. Jangan pikir uang segitu waktu itu banyak. Waktu itu makan lauk ayam sekitar 5000, kalau di padang sudah 6000-7500. Teman-teman kuliahku yang berada uang saku sudah 200rb-700rb per bulan. Tapi apakah aku bisa bertahan? Alhamdulilah bisa. Bahkan untuk uang foto kopi dan beli buku, aku sudah tidak minta lagi ke orang tua. Kadang mau minta, tapi keungan keluarga kadang juga mepet, jadi batal minta lagi. Apakah aku pinjem teman? Insya Allah, jangan. Dan semoga tidak pernah pinjem uang. Lalu apa yang aku lakukan? Berhemat. Berhemat adalah satu-satunya cara aku bertahan. Karena waktu itu aku juga bukan orang dagang, bahkan nggak kepikiran sama sekali buat nyambi jualan.

Setiap hari makan hanya lauk tempe atau tahu, paling banter telur ayam. Kadang juga cuma beli sayur, nasi masak supaya lebih hemat lagi. Bahkan dulu ada masa ketika aku merasa teman kuliahku kasihan dengan lauk yang aku beli, dan ngasih lauknya untukku. Kutolak dengan halus, karena aku sudah terbiasa lauk tahu tempe tanpa ayam atau daging.

Tidak perlu gengsi, tidak perlu malu sama teman-teman kita. Mereka tidak mengalami apa yang kita alami. Mereka punya uang banyak, kita punya uang sedikit. Mereka bebas meminta uang ke orang tuanya, kita tidak. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya hidup miskin. Kita bisa membayangkan bagaimana hidup kaya, yang jelas tidak sengenes kita.

Alhamdulilahnya, teman-teman kosku juga anak-anak orang yang nggak punya. Uang sakunya kurang lebih sama denganku. Jadi kita bisa bareng-bareng berhemat. Nggak ada gengsi-gengsian antara teman kos. Meskipun miskin, tetapo kami hidup bahagia bersama. Aaahh aku jadi merindukan mereka.

Mengenai lauk tahu tempe yang kami konsumsi tiap hari, kadang nggak bisa dipahami oleh teman yang lebih kaya. Mereka pikir kami pelit, tapi kami hanya ingin bertahan hidup. Ada alasan kuat kenapa kami mengkonsumsi itu, yakni supaya uang saku kami cukup untuk bertahan satu minggu. Kalau sedang beruntung uang saku itu sisa 10.000. Bisa untuk keperluan foto kopi lain waktu, atau meminjam komik, kesenanganku jaman kuliah.

Jika mau main sok kaya, dan makan lauk ayam setiap hari, mungkin bisa. Tapi uang hanya akan bertahan 4 hari, sesudah itu kami akan kelaparan. Kadang orang yang lebih kaya tidak bisa memahami cara berpikir kami, karena membayangkan uang saku 40rb per minggu saja mereka tidak bisa, apalagi mengalami.

Hati-hati Sama yang Model Begini


Beda keuangan, beda tantangannya. Kalau kamu miskin, maka kamu nggak merdeka secara keuangan. Semua yang kamu keluarkan harus benar-benar dipikirkan. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus diperhitungkan. Dibilang pelit? terserah, toh memang segitu kemampuan kita dalam mengeluarkan uang.

Setelah kamu punya uang, maka akan ada orang-orang yang datang padamu untuk meminjam uang. Saat itu terjadi kita harus pinter-pinter memilih mana yang harus dipinjami dan mana yang tidak. Susah? Memang demikian. Apalagi menolak rengekan, atau kata-kata iba. Kadang pengen langsung meminjami, dan keinginan membantu sangat tinggi, tapi ada setan yang berbisik "jangaaannn". Atau kadang mikir, kira-kira dikembaliin nggak? Hahahaahaa..

Tapi memang ada jenis yang memiliki keinginan kuat di awal, namun melempem di akhir. Saat mau pinjem, apapun dilakukan, bahkan nggak ada pulsa pun dibela-belain pinjem temennya. Setelah kita pinjami, karena alasan yang membuat kita ingin membantu (kalau aku biasanya buat bayar sekolah) saat kita tagih, tiba-tiba orangnya menghilang. OMG! Rasanya jengkel minta ampun. Disms berkali-kali nggak bales, telfon nggak diangkat, apa sih maunya? (kayak lirik lagu ya?)

Sebagai orang yang meminjami, kadang kita hanya ingin memastikan, kapan uangnya dikembalikan. Semakin si peminjam hilang susah dihubungi, semakin kita resah kemudian semakin galak dan nggak percaya sama si peminjam. Jika saat meminjam dia rela meminjam HP teman, kenapa saat mengembalikan tidak meminjam HP teman juga, hanya untuk memberi kabar dan membalas SMS.

Pernah mengalami ini? Atau hanya aku saja yang seperti ini?

March 14, 2014

Berbeda Denganmu


Aku tak sama denganmu yang hanya  mencintai beberapa wanita selama hidupmu.
Aku berbeda denganmu yang telah mencintai banyak lelaki dalam hidupku.

Aku tak sama denganmu yang masih baik dengan orang yang telah menyakitimu.
Aku berbeda denganmu yang hanya akan berbicara seperlunya dengan orang yang telah menyakitiku.

Aku tak sama denganmu yang masih saja mencintai wanita yang tak mencintaimu.
Aku berbeda denganmu yang langsung melupakan lelaki yang tak mencintaiku.

Aku tak sama denganmu yang susah melupakan cinta lamamu.
Aku berbeda denganmu yang telah mencintai beberapa lelaki setelah melupakanmu.

Aku tak sama denganmu yang masih saja mencintai perempuan yang berpaling darimu.
Aku berbeda denganmu yang akan langsung pergi dan tak kan pernah kembali mencintaimu.

Apapun itu, lupakan aku pernah mencintaimu.

March 13, 2014

Mengingat Masa Lalu


Malam ini aku kembali teringat masa lalu. Masa-masa ketika hidupku susah banget karena keadaan ekonomi yang sangat terbatas. Kalau diingat-ingat lagi rasanya sangat bersyukur dengan keadaan yang sekarang ini. Alhamdulilah, alhamdulilah banget nggak harus mengalami hal itu seumur hidupku.

Dulu memang susah, tapi waktu itu tidak merasakan susahnya. Aku juga tetap menikmati hari-hariku. Tidak merasa menjadi manusia paling nelangsa. Tapi semua serba terbatas. Mau makan mikir, mau beli sesuatu mikir, mau main mikir, semua serba dipikirkan, demi kelancaran. Sekarang ketika mengingat-ingat masa itu, aku selalu berdoa semoga tidak pernah kembali ke saat-saat kekurangan itu.

Lalu ketika saat ini, ketika bisa mencari uang dengan jauh lebih mudah. Mau beli apa-apa lebih longgar dibandingkan dulu. Ketika Allah ngasih kepercayaan memegang sebuah pekerjaan, kenapa terkadang aku masih mengeluh, dan selalu merasa kurang? Kenapa masih sering mengeluh? Bukankah hari ini jauh, jauh lebih baik dibandingkan dulu? Bukankah hari ini berkali-kali lebih mudah dibandingkan dulu?

Dulu waktu SMP, hanya demi membeli bedak saja aku harus nabung sebulan, tidak jajan di kantin. Mau beli parfun juga demikian. Mau beli tas, harus nabung berbulan-bulan. Ya Allah, maafkan hamba yang masih sering merasa kekurangan. Maafkan hamba yang sangat tamak. Maafkan hamba yang tidak mensyukuri rejekimu yang sangat besar. Maafkan jika hamba belum bisa mengelola uang yang kau percayakan padaku. Maafkan hamba. Semoga Engkau masih bersedia memberiku kesempatan.

Dan malam ini, ketika aku menuliskan ini, semoga aku bisa mewujudkan keinginan ibukku. Bukankah ini hanya seperti menahan diri ketika dulu aku ingin membeli baju? Semoga tulisan ini bisa sebagai pengingatku untuk terus konsisten.

Yang belajar lebih baik.
@fatkah

March 3, 2014

Hello March, Goodbye Feb


Hello again! It's a new month (again). Nggak terasa banget sudah bulan Maret, padahal rasanya belum lama barusan tahun baru, tahu-tahu sudah Maret aja. Lalu bagaimana kabar resolusimu? Punya kan? Masih inget kan? Masih Maret nih, jangan sok pura-pura lupah. Hehehehee.. :p

Oke, baiklah! Aku nggak mau sok-sokan mengingatkan padahal resolusiku sendiri masih keteteran. Di poting-an kali ini aku mau ngebahas resolusiku. Menurutku masih kurang kece sih, masih belum mendekatkanku pada passion apalagi visi misi hidupku. Tapi saya masih belajar, mohon bimbingannya temin-temin.

Resolusi tahun 2014? Ini dia, cekidot:
1. Mulai menjalankan usahaku dan mencapai pendapatan minimal sama dengan pendapatanku sekarang sebagai karyawan.
2. Menikah di pertengahan tahun, atau akhir tahun.

Untuk mencapai itu, aku buat target bulanan. Terget bulanan bisa berupa usaha langsung yang menunjang terget tahunanku, atau bersifat spiritual untuk 'merayu' Allah supaya mempermudah jalanku mencapainya. Target bulan Februari ini adalah:
1. Ikut ODOJ. Tapi sampai saat ini aku baru bisa satu hari setengah Jus. Dan mungkin tahun ini satu hari setengah jus dulu, yang penting konsisten demikian. Kalau aku paksakan ikut ODOJ takutnya cuma semangat di awal, dan melempem pada akhirnya. Mungkin tahun depan baru bisa ikut ODOJ. Semoga, aamiin.
2. Memulai usaha. Maaf yang ini aku benar-benar payah. Sampai saat ini pun, usahaku masih belum aku apa-apain. Omg! Njus piye jial? Tolong bantu aku untuk meningkatkan semangat dalam membuka usahaku. Hiks. Rasanya susah sekali memulainya. Aku masih males-malesan. Tolong yang bisa membantuku meningkatkan semangat ngurusin ini, bantu aku. Please! I need your help. Masak iya, tiap bulan aku menuliskan resolusi "memulai usaha segera".

Itu sekilas tentang review bulan Februari. Sekarang mari kita bahas target bulan Maret.
1. Ingin menemukan komunitas ta'aruf. Kalau kamu punya referensi, mohon infonya yah. Jangan sungkan-sungkan memberitahu saya. Karena beberapa high quality jomblos siap bergabung. ;)
2. Mulai latian masak, minimal 2 minggu sekali masak sesuatuk.
3. Bikin target usaha, copy write buat @muslinnaziha. (Kayaknya sepele banget ya? Tapi entah kenapa aku super males. Buktinya aku merencanakan ini sejak Januari, dan belum kulakukan sesuatu sampai saat ini)
4. Menghafal asmaul husan.

Mungkin itu dulu ya, tentang review resolusiku. Memang nggak penting sih, tapi semoga bisa selalu mengingatkanku. Aamiin.

Yang membutuhkan bantuanmu.
@fatkah